Berita Utama
Hindari Stres Saat Kehamilan

Hindari Stres Saat Kehamilan

Setiap ibu yang normal pasti bahagia mendengar kabar tentang kehamilannya. Apalagi jika itu terjadi untuk pertama kalinya. Tetapi jangan heran, kalau calon ibu muda tersebut bisa pula mengalami stres lho! Tentu saja ini harus dihindarkan. Mengingat stres pada kehamilan dapat saja mengganggu jiwa si ibu. Bahkan juga jiwa si janin di dalam kandungan. Bahkan tumbuh kembangnya bisa terganggu juga.

Sebenarnya wajar saja ibu hamil mengalami stres karena memang telah terjadi perubahan yang  mengganggu keseimbangan dirinya. Akan tetapi jika dibiarkan dan berkembang lebih jauh bisa membahayakan diri sendiri  sekaligus janin yang sedang dikandungnya. Hal itu karena stres dapat mengganggu selera makan ibu Kalau hal itu terjadi dalam waktu lama, bisa saja nanti janin menjadi kekurangan gizi.

Stres juga bisa mengakibatkan gangguan pola tidur, menjadi lemas dan kehilangan gairah untuk melakukan aktivitas tertentu. Bahkan juga sulit untuk konsentrasi ditambah perasaan bingung dan putus asa. Maka jika terdapat gejala-gejala stres harus ditangani dengan segera. Sebab si ibu bisa mengalami keguguran. Bisa juga bayi lahir prematur. Atau kalaupun lahir normal maka si bayi bisa mengalami kekurangan berat badan atau mengalami gangguan pernapasan. Stres juga dapat membuat janin melakukan aktivitas yang berlebihan. Ia pun cenderung rewel alias sering menangis setelah lahirnya. Bahkan mungkin  juga mulai menunjukkn hiperaktivitas.

Penyebab stres pada ibu hamil

Penyebab dari stres pada ibu hamil bermacam-macam. Umumnya timbul karena berbagai kekhawatiran. Misalnya khawatir berat badan yang naik tidak bisa turun kembali. Juga takut timbul garis-garis di bagian perut yang pasti mengganggu kecantikan kulitnya. Juga ngidam yang cukup parah dan gangguan fisik lainnya.

Beberapa wanita pun mengkhawatirkan kesehatan bayinya. Mereka sering berpikir apakah bayinya ketika dilahirkan akan normal dan sehat. Ibu yang diperingatkan dokter akan melahirkan anak dengan kelainan bawaan, malah bisa lebih stres lagi. Mereka berharap-harap cemas sepanjang waktunya.

Begitu pun masalah merawat anak, seorang calon ibu baru mengalami dilematis dalam pikirannya. Misalnya seperti bagaimana nanti bayinya dirawat. Akankah ia merawatnya sendiri atau mempekerjakan seorang baby sitter dan lainnya. Semuanya bisa menyebabkan tekanan mental bagi si calon ibu sehingga lama-lama menjadikannya stres berkepanjangan. Apalagi jika lingkungan menuntut untuk mempunyai anak dengan jenis kelamin tertentu. Atau dicecoki dengan mitos-mitos yang menakutkannya. Lengkaplah sudah ‘penderitaan’ ibu hamil tersebut.

Cara membantu ibu hamil mengatasi stresnya

Dalam hal ini bantuan suami terutama, juga anggota keluarga dan teman-teman dekat sangat diperlukan untuk memberikan dukungan. Terutama semangat dari suami bisa menjadi obat tersendiri pada sang istri yang sedang memperjuangkan bayinya untuk lahir dengan selamat dan sehat.

Begitupun sebaiknya ibu hamil punya teman berbagi cerita yang mau mendengarkan tentang perkembangan kehamilannya. Misalnya tentang kondisi tubuhnya yang semakin besar, ngidamnya, perkembangan janinnya dan lain sebagainya. Berinteraksi dengan sesama ibu hamil juga dapat membantu memberi ketenangan. Perasaan senasib sependeritaan akan membuat ibu hamil merasa aman, nyaman dan adanya kebersamaan.

Ibu hamil juga harus pandai memanajemen dirinya dengan pengaturan waktu yang seimbang antara perhatiannya pada pekerjaannya dan perhatiannya pada kehamilannya. Jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, badan menjadi kurang terurus. Lebih bagus lagi kalau menambahkan waktu untuk aktivitas kesukaan.

Bagus juga jika mengikuti aktivitas senam untuk ibu hamil. Senam seperti itu bisa memberikan sugesti positif pada si calon ibu. Bahkan memberikan manfaat karena gerakan tertentu bisa membuat otot menjadi lentur. Dan hal itu akan sangat berguna ketika terjadi kontraksi saat persalinan nanti. Suami juga bisa mengajak istri untuk berkonsultasi dengan para ahli agar istri menghadapi masa kehamilan dan persalinan nanti dengan sikap yang positif.

***

Leave a Reply

Scroll To Top