Berita Utama
Jurus Jitu Menghadapi Suami Egois

Jurus Jitu Menghadapi Suami Egois

Banyak yang mengakui kalau kebanyakan pria itu egois dan terkadang keras kepala. Bahkan hal itu masih saja terbawa sampai mereka berumah tangga. Para pria  itu ternyata masih saja mempertahankan sifatnya yang selalu ingin menang sendiri. Dan bagi wanita sebagai istri, amatlah sukar untuk menaklukan sifatnya tersebut.

Tetapi Dr Pauline Goddard memberikan jurus jitu dalam bukunya yang berjudul Women Men Leave. Dan berikut kelima jurus jitu yang bisa mengubah pria menjadi semakin lembut dan lebih mencintai istrinya.

Jurus pertama, puaskan rasa laparnya akan 3 hal. Karena menurut beliau, pria yang egois mempunyai tingkat lapar yang tinggi pada seks, kekuatan dan prestasi. Jadi sang istri harus bisa memuaskan laparnya tersebut. Jika pria sudah mengalami keadaan kenyang terhadap 3 hal itu maka  tidak mustahil ia bisa mengalami perubahan.

Jurus kedua, memahami mana egonya yang sedang lapar. Jika ia lapar seks, maka puaskan saja bagian itu. Tak perlu memikirkan yang lainnya. Jika sedang lapar prestasi, maka kenyangkan ia dengan hal itu. Begitu seterusnya. Tentu saja agar berhasil, seorang istri tidak bisa menghadapinya secara emosional. Sebaiknya sikap sabar dan tenang akan mampu menundukkan sifatnya yang super ego tersebut.

Jurus ketiga, sabar mendengarkan semua keluhannya. Maklum saja, ternyata pria ego ini umumnya banyak bicara. Pujilah dia agar merasa menjadi lelaki super. Tak perlu dengan komentar panjang lebar, secukupnya saja.

Jurus keempat, Anda harus lebih hebat dalam urusan ranjang dibanding dia. Kalau perlu tunjukkan juga ego Anda padanya. Dan ternyata, pria egois ini dapat juga takluk karenanya.

Jurus kelima, tetap memelihara ego kita. Rugi sekali kalau terus-terusan dikalahkan oleh keegoisan pria. Wanita pun berhak mempunyai ego dong. Lakukan sama seperti egonya para pria. Hingga akhirnya suami pun bisa mengurangi sikap egonya ketika berhubungan dengan Anda.

Sumber lain mempunyai pandangan berbeda dalam menaklukan suami yang egois. Sebagai istri harusnya tahu kapan memberikan masukan dan kritikan pada suami. Hal itu demi menjaga agar suami tidak merasa disalahkan. Sering sepulang kerja suami ingin dipahami dan dilayani karena ia merasa sangat lelah. Jadi bukan disuguhi pertanyaan yang bisa membuatnya marah.

Makanya kalau ingin memberikan kritik atau masukan, lakukan saat sedang bermesraan. Jangan lupa untuk menggunakan kata “saya” dan bukannya “kamu”. Misalnya, jika istri menginginkan suaminya untuk pulang tidak terlalu malam. “Saya akan senang kalau papa pulangnya lebih awal lagi. Kita kan jadi punya banyak waktu berdua”. Dengan demikian suami menjadi paham maksud istri tanpa merasa disalahkan.

Tetapi jika sikap egoisnya sudah belebihan, ajaklah suami untuk berbicara dari hati ke hati. Lakukan jika suasana hatinya sedang tenang. Ajaklah ia menemui psikolog, jika sikap egoisnya semakin keterlaluan.  Barangkali  saja ia menyimpan masalah yang tidak bisa diungkapkannya kepada istrinya.

Tidak mudah memang menangani suami yang egois. Butuh kesabaran yang tinggi untuk menghadapinya. Sebagai istri jangan sampai tersulut emosi dengan cara marah-marah yang justru bisa membuat keadaan semakin parah. Tetaplah tenang dan cari jalan terbaik untuk menyelesaikannya.

***

Leave a Reply

Scroll To Top