Berita Utama
Mengatasi Krisis Perasaan Pasca Persalinan

Mengatasi Krisis Perasaan Pasca Persalinan

Ada sebagian wanita yang mengalami krisis perasaan setelah dia melahirkan. Keadaan seperti itu  sering disebut dengan istilah ‘Baby Blues’. Kehadiran bayi yang harusnya membuat bahagia malah terasa sebagai beban. Berbagai perasaan pun berkecamuk di dalam dada.  Entah itu cemas, khawatir, takut, sedih dan berbagai perasaan tidak nyaman lainnya.

Anehnya lagi, terjadi semacam penolakan terhadap kehadiran bayi baru. Sindrom  ini memang sifatnya sementara. Tetapi jika tidak ditangani bisa menyebabkan si ibu menjadi depresi. Jadi, bagaimanakah cara untuk mengatasinya?

Dalam istilah kedokteran ‘Baby Blues’ dikenal dengan istilah postpartum blues atau postpartum depression atau postpartum psychosis. Merupakan suatu kondisi yang dialami ibu di minggu pertama setelah kelahiran sang bayi. Biasanya dialami oleh seorang ibu yang baru pertama kali melahirkan.

Ciri-ciri ibu yang mengalami ‘Baby Blues’

Adapun ciri-cirinya adalah moodnya bisa berubah drastis walaupun sebenarnya perasaan bahagianya besar juga. Tanpa sebab yang jelas terkadang bisa menjadi sangat sedih dan mengeluarkan air mata. Karakternya juga menjadi kurang sabar, cepat tersinggung, cemas, lelah dan merasa sendiri.

Tidak jarang perasaan-perasaan negatif tersebut menjadikannya kehilangan nafsu makan. Bahkan juga sering terjadi tidak bisa tidur nyenyak walaupun bayinya sudah tertidur. Si ibu juga tidak merasakan kegairahan hidup. Ia juga kehilangan semangat untuk beraktivitas. Yang dialaminya adalah perasaan bersalah, tidak berguna dan putus asa. Intinya, si ibu merasakan depresi yang tidak dimengertinya.

Gejala ‘Baby Blues’.

Gejala-gejala seperti itu biasanya muncul tiga atau empat hari setelah melahirkan. Tetapi ada juga yang mencapai sepuluh hari. Akibatnya, bayi jadi tidak terperhatikan dengan baik . Badan si ibu  sendiri juga mengalami penurunan berat.   Walau hal itu berbeda-bedanya lamanya untuk tiap ibu, tetapi ternyata ada yang mencapai waktu 6 bulan sejak ia melahirkan.

Penyebab terjadinya ‘Baby Blues’.

Adapun penyebab terjadinya ‘Baby Blues’ diduga karena pada saat hamilnya mengalami depresi. Bisa juga di masa pernikahannya kurang bahagia. Jadi ketika terjadinya kehamilan tidak ada seorangpun yang memberi dukungan padanya. Termasuk dari keluarga juga. Bisa saja selama kehamilan banyak mengalami peristiwa yang menegangkan. Jadi ‘Baby Blues’ lebih banyak dipicu oleh faktor-faktor psikologis.

Siapa saja yang bisa mengalami ‘Baby Blues’.

‘Baby Blues’ bisa terjadi pada berbagai usia, berbagai latar belakang ekonomi keluarga dan pendidikan. Makanya sangat disarankan kepada mereka yang menikah agar hamil pada usia minimal 21 tahun. Dengan demikian, mereka akan mempunyai sikap emosional yang lebih matang sehingga ketika terjadi persalinan, mereka tidak akan mengalami sindrom  ‘Baby Blues’.

Cara Mengatasi ‘Baby Blues’.

Penanganan ‘Baby Blues’ bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa melalui proses konseling, terapi dari keluarga bahkan pemberian oba-obat anti depresan. Tetapi saat pemberian obat, si ibu tidak boleh menyusui bayinya. Alasannya, obat tersebut bisa juga diserap bayi melalui air susu ibu. Dan tentu saja itu akan membahayakan sang bayi.

Untuk itulah, peran keluarga misalnya suami sangat diperlukan. Berikan istri dukungan penuh. Dengan demikian, istri bisa siap secara fisik dan mental menerima kehadiran si bayi. Itulah salah satu cara penyembuhan secara psikologis. Walaupun proses penyembuhan seperti ini menghabiskan waktu yang tidak sama bagi setiap ibu. Ada yang hanya satu bulan dan ada juga yang lebih.

Memang, tidak semua orang bisa mengalami ‘Baby Blues’. Tetapi ‘Baby Blues’ bisa menyerang siapa saja. Untuk itu jika suami atau keluarga sangat sibuk, punyailah seorang sahabat untuk mengeluhkan semua perasaan saat sedang hamil termasuk keluhan-keluhan yang mungkin dialami. Dengan demikian sindrom ’Baby Blues’  tidak akan pernah menghampiri. Dan Anda akan siap merawat bayi Anda dengan perasaan suka cita walaupun banyak pengorbanan yang telah Anda keluarkan sebelum dan sesudahnya.

***

Leave a Reply

Scroll To Top